Kaidah Fikih Kulliyyah (Umum): Implementasinya dalam Bidang Ekonomi, Politik, Sosial, Hukum, dan Budaya
Kata Kunci:
Fikih, Kulliyyah, Ekonomi, Politik, Sosial, Hukum, BudayaAbstrak
Buku yang ada di tangan pembaca ini merupakan jilid lanjutan dari kumpulan kaidah-kaidah fikih yang sebelumnya telah disajikan. Jika pada bagian pertama pembaca telah diperkenalkan dengan 52 kaidah induk yang mencakup prinsip-prinsip universal seperti “segala perkara tergantung pada maksudnya”, “keyakinan tidak hilang karena keraguan”, “tidak boleh membahayakan”, “kesulitan mendatangkan kemudahan”, hingga “adat dapat menjadi sumber hukum”, maka pada jilid kedua ini penulis menghadirkan 30 kaidah tambahan yang tak kalah pentingnya. Kaidah-kaidah ini sebagian besar berkisar pada metode interpretasi teks, prinsip-prinsip kepemilikan dan tanggungan, serta kaidah-kaidah tentang otoritas dan kebijakan publik—semuanya disusun dari nomor 53 hingga 82 berdasarkan pengelompokan yang sistematis.
Kaidah pertama dalam rangkaian ini, “Mengamalkan ucapan lebih utama daripada mengabaikannya” (إعمال الكلام أولى من إهماله), menjadi fondasi penting dalam hermeneutika hukum Islam. Kaidah ini mengajarkan bahwa ketika seorang hakim atau mujtihid berhadapan dengan suatu teks (ayat, hadis, atau pernyataan dalam akad), ia wajib berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan makna dan efek hukum kepada teks tersebut, bukan malah membiarkannya sia-sia tanpa arti. Berangkat dari sini, muncullah kaidah-kaidah turunan seperti “Asal dari ucapan adalah makna hakiki (literal)” (kaidah 2/54), yang menegaskan bahwa bahasa dipahami menurut arti sebenarnya kecuali ada indikasi kuat untuk beralih ke makna kiasan. Dan apabila makna hakiki tidak mungkin diterapkan, maka kaidah 3/55 mengarahkan untuk beralih ke makna majaz. Namun jika kedua-duanya sulit diwujudkan, maka kaidah ke-4 memberikan solusi pragmatis: “Jika sulit atau tidak mungkin untuk mengamalkan suatu perkataan, maka perkataan itu diabaikan.” Demikianlah, kaidah-kaidah ini membimbing seorang mujtahid untuk tidak memaksakan interpretasi yang tidak mungkin, sekaligus tidak terburu-buru meninggalkan teks hanya karena ada sedikit kesulitan.
Salah satu kaidah yang sangat menarik dan sering digunakan dalam fikih muamalah modern adalah: “Yang dianggap dalam akad adalah maksud dan maknanya, bukan kata-kata dan struktur bahasanya” (العبرة في العقود للمقاصد والمعاني، لا للألفاظ والمباني). Kaidah ke-14 dari rangkaian ini (14/66) menegaskan bahwa esensi sebuah akad terletak pada substansi dan tujuan yang dikehendaki oleh para pihak, bukan sekadar pada rangkaian lafaz yang diucapkan. Sebuah kontrak yang dilafalkan dengan kata-kata jual beli, namun ternyata para pihak tidak menghendaki perpindahan kepemilikan secara sempurna, maka bisa jadi akad tersebut adalah akad pinjaman atau titipan. Kaidah ini beririsan erat dengan kaidah pertama dari jilid sebelumnya—bahwa segala perkara tergantung pada niat dan tujuannya—namun dengan penekanan khusus pada ranah akad dan perjanjian.
Babak penting lainnya adalah kaidah-kaidah tentang hal yang mengikuti (al-tabi’) dan yang diikuti (al-mutba’). Rangkaian kaidah dari nomor 17 hingga 27 membahas secara mendalam tentang status hukum sesuatu yang bersifat sekunder atau turunan. “Siapa yang memiliki sesuatu, maka ia memiliki apa yang menjadi keharusan (bagian integral) darinya” (من ملك شيئا ملك ما هو من ضروراته). Kaidah ini, misalnya, memberikan justifikasi bahwa kepemilikan atas sebidang tanah secara otomatis memberikan hak memiliki pepohonan yang tumbuh di atasnya, atau hak untuk melewati jalan yang menjadi satu-satunya akses ke tanah tersebut. Selanjutnya, “Dimaafkan pada hal sekunder apa yang tidak dimaafkan pada hal primer” (يغتفر في التابع ما لا يغتفر في المتبوع)—kaidah ini menjadi landasan mengapa dalam shalat, misalnya, gerakan-gerakan kecil yang tidak disengaja (sebagai hal sekunder) dimaafkan, sementara jika gerakan itu terjadi pada rukun pokok (primer), shalat menjadi batal. Kaidah “Hasil/manfaat menjadi hak yang menanggung risiko” (الخراج بالضمان) adalah prinsip monumental yang menyatakan bahwa manfaat dari suatu barang menjadi hak bagi siapa yang menanggung risiko kerugiannya—sebuah prinsip yang menjadi fondasi bagi berbagai akad seperti sewa-menyewa dan bagi hasil.
Kaidah tentang pelaku langsung dan tidak langsung juga tidak kalah urgen. “Jika pelaku langsung dan tidak langsung berkumpul, hukum dikaitkan kepada pelaku langsung” (إذا اجتمع المباشر والمتسبب يضاف الحكم إلى المباشر). Kaidah ke-28 ini memiliki implikasi yang luas dalam hukum pidana dan perdata. Seseorang yang secara langsung membunuh korban akan dihukum qishash meskipun ada pihak lain yang menjadi dalang (penyebab tidak langsung). Demikian pula dalam ranah kontemporer, dalam kecelakaan lalu lintas atau dalam pertanggungjawaban medis, siapa yang secara langsung melakukan tindakan (dokter bedah) berbeda tanggung jawabnya dengan yang menjadi penyebab (rumah sakit atau pemberi izin). Namun kaidah ini tidak bersifat absolut; ia berfungsi sebagai pedoman awal sebelum bukti-bukti lain dipertimbangkan.
Di bagian akhir, pembaca akan menemukan kaidah-kaidah tentang otoritas dan kebijakan publik. “Otoritas khusus lebih kuat daripada otoritas umum” (الولاية الخاصة أقوى من الولاية العامة)—ini menjelaskan mengapa hak seorang wali nasab (ayah kandung) atas harta anaknya lebih kuat dibandingkan wali hakim, atau mengapa perintah seorang komandan kepada bawahannya dalam konteks tugas lebih didahulukan daripada perintah penguasa umum di luar konteks itu. Dan kaidah penutup yang sangat penting bagi para pemimpin dan pengambil kebijakan: “Kebijakan terhadap rakyat bergantung pada kemaslahatan” (التصرف على الرعية منوط بالمصلحة). Kaidah ini memberikan legitimasi sekaligus batasan bagi penguasa dalam mengatur urusan publik: setiap kebijakan harus berorientasi pada mewujudkan kemaslahatan dan menghindari kemafsadatan, bukan pada kepentingan pribadi atau golongan.
Penulis menyadari bahwa 30 kaidah yang disajikan dalam buku ini hanyalah sebagian kecil dari lautan kaidah fikih yang dirumuskan oleh para ulama mazhab. Namun, penulis memilih kaidah-kaidah ini karena tingkat popularitasnya yang tinggi dalam kitab-kitab ushul dan qawa’id, serta relevansinya yang sangat kuat dengan persoalan-persoalan hukum kontemporer, terutama dalam bidang muamalah, peradilan, dan kebijakan publik. Buku ini disusun dengan format yang memudahkan: setiap kaidah disertai dengan teks Arab, terjemahan, penjelasan ruang lingkup, contoh penerapan, serta beberapa pengecualian jika ada. Diharapkan, buku ini dapat menjadi pelengkap yang tak terpisahkan dari jilid pertama, dan bersama-sama membentuk pemahaman yang utuh tentang logika hukum Islam.
Referensi
Abd Al-Hayy bin Al-Imad Al-Hanbali (1089 H), Shadarat Al-Dhahab fi Akhbar Man Dhahab, Tab’ Maktabat Al-Qudsi. Al-Qahirah. 1350 H.
Abd Allah bin Sa’id bin Abbad Al-Lahji Al-Hadrami, 1410 H, Idhah Al-Qawa’id Al-Fikihiyah, Al-Tab’ah Al-Thalithah. Al-Sa’udiyah. Dun Dar Nashr.
Abd Allah bin Yusuf Al-Zayla’i (762 H), Nasb Al-Rayah li Ahadith Al-Hidayah, Al-Tab’ah Al-Ula. Misr. 1357 H/1938 M.
Abd Al-Qadir Al-Qurashi (775 H), Al-Jawahir Al-Mudiyah fi Tarajim Al-Hanafiyah, Tab’ Haidarabad. Al-Hind. 1332 H.
Abd Al-Qadir bin Ahmad Al-ma’ruf bi Ibn Badran (1346 H), Al-Madkhal ila Mazhab Ahmad, Idarat Al-Tiba’ah Al-Muniriyah. Misr. d.t.
Abd Al-Rahman Al-Sabuni, Al-Madkhal li Dirasat Al-Tashri’ Al-Islami, Nashr Jami’at Dimashq. Dimashq. d.t.
Abd Al-Salam Ibrahim Muhammad Al-Husayn, Al-Qawa’id wa Al-Dawabit Al-Fikihiyah li Al-Mu’amalat Al-Maliyah inda Ibn Taymiyah, Jam’ wa Dirasat, Dar Al-Ta’sil. Al-Qahirah. Tab’ah 1 1422 H/2002 M. Risalat Majistir.
Abd Al-Wahhab Al-Baghdadi (422 H) Al-Ishraf ala Masail Al-Khilaf, Matba’at Al-Iradah. Tunis. d.t.
Abd Al-Wahhab Al-Maliki (422 H), Al-Qawa’id Al-Fikihiyah min Khilal Kitab Al-Ishraf, Al-Duktur Muhammad Al-Ruqi. Nashr Dar Al-Buhuth li Al-Dirasat Al-Islamiyah wa Ihya’ Al-Turath Tab’ah 1 Dubai 1424 H/2003 M.
Abi Abd Allah Al-Hakim, Muhammad bin Abd Allah (405 H), Al-Mustadrak ala Al-Sahihayn fi Al-Hadith, Taswir an Tab’at Haidarabad Al-Dakan. Al-Hind. 1335 H.
Abu Abd Allah Muhammad bin Ahmad Al-Ansari Al-Qurtubi (671 H), Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an = Tafsir Al-Qurtubi, Tab’ah Musawwarah an Dar Al-Kutub Al-Misriyah. Al-Qahirah. d.t.
Abu Abd Allah Muhammad bin Isma’il Al-Bukhari (256 H), Sahih Al-Bukhari, Dabtahu wa Sharhahu, Al-Duktur Mustafa Al-Bugha Nashr Dar Al-Qalam, Dimashq. Al-Tab’ah Al-Ula. 1401 H/1981 M.
Abu Abd Allah, Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Al-Maqqari (758 H), Al-Qawa’id, Tahqiq Al-Duktur Ahmad bin Abd Allah bin Hamid Nashr Markaz Ihya’ Al-Turath Al-Islami, Jami’at Umm Al-Qura. Makkah Al-Mukarramah. bila Tarikh.
Abu Al-Abbas Ahmad bin Yahya Al-Wansharisi (914 H), Idhah Al-Masalik ila Qawa’id Al-Imam Malik, Tahqiq Ahmad Boutahir Al-Khattabi, Nashr Sunduq Ihya’ Al-Turath Al-Islami, Al-Ribat. 1400 H/1980 M.
Abu Al-Baqa’ Al-Kafawi, Ayyub bin Musa Al-Husayni (1094 H/1684 M), Al-Kulliyat, Nashr Wizarat Al-Thaqafah Dimashq. 1981 M.
Abu Al-Hasan Ali bin Muhammad bin Habib Al-Mawardi (450 H), Al-Hawi Al-Kabir, Tahqiq Adad min Al-Asatidhah, Tab’ Dar Al-Fikr. Beirut 1414 H/1994 M.
Abu Al-Hasanat Muhammad bin Abd Al-Hayy Al-Laknawi (farigh minhu sanat 1292 H), Al-Fawa’id Al-Bahiyah fi Tarajim Al-Hanafiyah, Taswir Dar Al-Ma’rifah. Beirut. d.t.
Abu Al-Qasim Al-Husayn bin Muhammad Al-ma’ruf bi Al-Raghib Al-Asbahani (502 H), Al-Mufradat fi Gharib Al-Qur’an, Matba’at Mustafa Al-Babi Al-Halabi. Al-Qahirah. 1381 H/1961 M.
Abu Isa Muhammad bin Isa bin Surah Al-Tirmidhi (279 H), Sunan Al-Tirmidhi = Al-Jami’, ma’ Sharhihi Tuhfat Al-Ahwadhi li Al-Mubarakfuri (1353 H) Matba’at Al-Madani. Al-Qahirah. Tab’ah 2. 1383 H/1963 M.
Abu Ishaq Ibrahim bin Ali Al-Shirazi (476 H), Al-Muhadhdhab fi Fikih Al-Shafi’i, Tahqiq Al-Duktur Muhammad Al-Zuhayli, Dar Al-Qalam. Dimashq. 1412 H/1992 M.
Abu Ishaq Ibrahim bin Ali Al-Shirazi (476 H), Tabaqat Al-Fuqaha’, Tab’ Dar Al-Turath Al-Arabi. Beirut. 1970 M.
Abu Muhammad Abd Allah bin Abd Al-Rahman bin Al-Fadl Al-Darimi (255 H), Sunan Al-Darimi, Tahqiq Muhammad Ahmad Dahman Tab’ Dar Ihya’ Al-Sunnah Al-Nabawiyah. Al-Qahirah, d.t.
Abu Zakariya Muhyi Al-Din Yahya bin Sharaf Al-Nawawi (676 H), Tahdhib Al-Asma’ wa Al-Lughat, Taswir an Tab’at Idarat Al-Tiba’ah Al-Muniriyah. Beirut. d.t.
Ahmad bin Al-Husayn Al-Bayhaqi (458 H), Sunan Al-Bayhaqi, Al-Sunan Al-Kubra. Taswir an Al-Tab’ah Al-Ula Haidarabad Al-Dakan. Al-Hind. 1355 H.
Ahmad bin Ali bin Hajar Al-Asqalani (852 H), Fath Al-Bari Sharh Sahih Al-Bukhari, Al-Matba’ah Al-Khayriyah. Al-Tab’ah Al-Ula. 1329 H, wa Tab’at Ukhra.
Ahmad bin Hajar Al-Asqalani (852 H), Al-Durar Al-Kaminah fi A’yan Al-Mi’ah Al-Thaminah, Matba’at Al-Madani Al-Qahirah. 1387 H/1967 M.
Ahmad bin Hajar Al-Asqalani (852 H), Al-Talkhis Al-Habir fi Takhrij Ahadith Al-Rafi’i Al-Kabir, Nashr Shirkah Al-Tiba’ah Al-Fanniyah Al-Muttahidah. Al-Qahirah. wa Abd Allah Hashim Al-Yamani. Al-Madinah Al-Munawwarah. 384 H/1964 M.
Ahmad bin Hanbal Al-Shaybani (242 H), Musnad Al-Imam Ahmad, Taswir Al-Maktab Al-Islami bi Dimashq an Al-Matba’ah Al-Maymaniyah bi Al-Qahirah. 1313 H.
Ahmad bin Muhammad Al-Zarqa (1357 H/1938 M), Sharh Al-Qawa’id Al-Fikihiyah, Dar Al-Qalam. Dimashq. Tab’ah 1. 1414 H/1993 M.
Ahmad bin Muhammad bin Ali Al-Misri Al-Fayyumi (770 H), Al-Misbah Al-Munir, Al-Matba’ah Al-Amiriyah. Al-Qahirah. Tab’ah 6 1926 M.
Ahmad bin Muhammad bin Ibrahim bin Khallikan (681 H), Wafayat Al-A’yan, Matba’at Al-Sa’adah. Al-Qahirah. Tab’ah 1. 1368 H/1948 M.
Ahmad bin Shu’ayb Al-Nasa’i (303 H), Sunan Al-Nasa’i, Matba’at Mustafa Al-Babi Al-Halabi. Al-Qahirah. Al-Tab’ah Al-Ula, 1383 H/1964 M.
Ali Ahmad Al-Nadwi, Jamharat Al-Qawa’id Al-Fikihiyah fi Al-Mu’amalat Al-Maliyah, Nashr Shirkah Al-Rajhi Al-Masrafiyah li Al-Istithmar. Al-Riyadh. Tab’ah 1. 1421 H/2000 M.
Ali bin Muhammad Al-Sharif Al-Jurjani Al-Hanafi (816 H), Al-Ta’rifat, Tab’at Mustafa Al-Babi Al-Halabi. Al-Qahirah, 1357 H/1938 M.
Ali Haydar Ta’rib Al-Muhama Fahmi Al-Husayni, Durar Al-Hukkam Sharh Majallat Al-Ahkam, Tab’ Dar Al-Jil. Beirut 1411 H/1991 M.
Al-Marghinani (593 H), li Al-Kamal bin Al-Humam (861 H), Fath Al-Qadir Sharh Al-Hidayah, Matba’at Al-Maktabah Al-Tijariyah Misr 1356 H, wa bi Hamihi Al-Inayah Sharh Al-Hidayah, Muhammad bin Muhammad Al-Babarti (786 H) wa Hashiyat Sa’d Allah bin Isa Al-Jalabi (945 H).
Al-Wansharisi (914 H), Tatbiqat Qawa’id Al-Fikih inda Al-Malikiyah min Khilal Idhah Al-Masalik, wa Sharh Al-Manhaj Al-Muntakhab li Al-Manjur (975 H), I’dad Al-Duktur Al-Sadiq bin Abd Al-Rahman Al-Ghiryani, Nashr Dar Al-Buhuth wa Al-Dirasat Al-Islamiyah wa Ihya’ Al-Turath, Dubai. Tab’ah 1. 1423 H. 2002 M.
Badr Al-Din Muhammad bin Bahadur Al-Zarkashi (794 H), Al-Manthur fi Al-Qawa’id, Haqqahu Al-Duktur Taysir Fa’iq Ahmad Mahmud, Nashr Wizarat Al-Awqaf. Al-Kuwait. Tab’ah 2. 1405 H/1985 M.
Ibn Rajab Abd Al-Rahman bin Ahmad bin Rajab Al-Hanbali (795 H), Taqrir Al-Qawa’id wa Tahrir Al-Fawa’id = Al-Qawa’id li wa bi Akhirihi Fihrist Taqrir, Al-Qawa’id wa Tahrir Al-Fawa’id li Abi Al-Faraj Nasr Al-Din Al-Baghdadi (kutibat 1086 H) Tahqiq Abi Ubaidah Mashhur bin Hasan Al Salman Dar Ibn Affan. Al-Khobar. Al-Sa’udiyah. Tab’ah 1. 1419 H/1998 M.
Isma’il bin Muhammad Al-Ajluni (1162 H), Kashf Al-Khafa wa Muzil Al-Ilbas, Tab’ Maktabat Al-Turath Al-Islami. Halab. Suriyah. d.t.
Izz Al-Din Abd Al-Aziz bin Abd Al-Salam (660 H), Qawa’id Al-Ahkam, Taswir Dar Al-Ma’rifah. Beirut. an Tab’at Al-Maktabah Al-Tijariyah Al-Kubra. Al-Qahirah. d.t.
Izzat Ubayd Al-Da’as, Al-Qawa’id Al-Fikihiyah, Manshurat Maktabat Al-Ghazali. Hamat. Suriyah. Tab’ah 2. d.t.
Jalal Al-Din Abd Al-Rahman Al-Suyuti (911 H), Al-Ashbah wa Al-Nazair fi Al-Nahw, Tab’ Shirkah Al-Tiba’ah Al-Fanniyah. Al-Qahirah. 1395 H/1975 M.
Jalal Al-Din Abd Al-Rahman Al-Suyuti (911 H), Al-Ashbah wa Al-Nazair fi Furu’ Fikih Al-Shafi’iyah, Matba’at Isa Al-Babi Al-Halabi. Al-Qahirah. d.t. + Matba’at Mustafa Al-Babi Al-Halabi. Al-Qahirah. 1387 H/1959 M.
Jalal Al-Din Abd Al-Rahman Al-Suyuti (911 H), Bughyat Al-Wu’at fi Tabaqat Al-Nahwiyyin wa Al-Nuhat, Tab’ Isa Al-Babi Al-Halabi. Al-Qahirah. 1384 H/1965 M.
Jalal Al-Din Abd Al-Rahman Al-Suyuti (911 H), Husn Al-Muhadarah fi Tarikh Misr wa Al-Qahirah, Tab’ Dar Al-Kutub Al-Arabiyah. Al-Qahirah. Tab’ah 1. 1387 H/1967 M.
Jamal Al-Din Abd Al-Rahim bin Al-Hasan Al-Asnawi (772 H), Tabaqat Al-Shafi’iyah, Dar Al-Ulum li Al-Tiba’ah wa Al-Nashr. Al-Riyadh. 1401 H/1981 M.
Khair Al-Din Al-Zirikli, Al-A’lam, Al-Tab’ah Al-Thalithah. Beirut. 1389 H/1969 M. Dun Dar Nashr.
Khalil bin Kaykaldi Al-Ala’i Al-Shafi’i (761 H), Al-Majmu’ Al-Mudhahhab fi Qawa’id Al-Mazhab, Tahqiq Al-Duktur Muhammad Abd Al-Ghaffar Al-Sharif Nashr Wizarat Al-Awqaf. Al-Kuwait. 1414 H/1994 M.
Mahmud bin Ahmad Al-Zanjani (656 H), Takhrij Al-Furu’ ala Al-Usul, Tahqiq Al-Duktur Muhammad Adib Salih, Tab’at Jami’at Dimashq. Dimashq, 1382 H/1962 M.
Mansur bin Yunus Al-Bahuti (1051 H), Al-Rawd Al-Murbi’ Sharh Zad Al-Mustaqni’, Mu’assasat Al-Risalah, Beirut. Tab’ah 1. 1424 H/2003 M.
Muhammad Al-Shirbini Al-Khatib (977 H), Mughni Al-Muhtaj, Matba’at Mustafa Al-Babi Al-Halabi. Al-Qahirah. 1377 H/1958 M.
Muhammad A’la bin Ali Al-Thanawi (1158 H), Kashshaf Istilahat Al-Funun, Taswir an Maktabat Kolkata. Al-Hind. 1862 H.
Muhammad Al-Zuhayli Nashr, Wasail Al-Ithbat fi Al-Shari’ah Al-Islamiyah, Maktabat Dar Al-Bayan. Dimashq. Tab’ah 1. 1414 H/1994 M.
Muhammad Al-Zuhayli, Al-Izz bin Abd Al-Salam, Dar Al-Qalam. Dimashq. Tab’ah 1. 1412 H/1992 M.
Muhammad Al-Zuhayli, Al-Juwayni, Dar Al-Qalam. Dimashq. Al-Tab’ah Al-Thaniyah. 1412 H/1992 M.
Muhammad Al-Zuhayli, Al-Nazariyat Al-Fikihiyah, Tab’ Dar Al-Qalam. Dimashq, Tab’ah 1. 1414 H/1993 M.
Muhammad Al-Zuhayli. Al-Qawa’id Al-Fikihiyah ala Al-Mazhab, Majlis Al-Nashr Al-Ilmi Jami’at Al-Kuwait. Tab’ah 1. 1999 M.
Muhammad Al-Zuhayli, Turuq Tadris Al-Tarbiyah Al-Islamiyah, Dar Al-Ma’arif li Al-Tiba’ah Dimashq. Tab’ah 1. 1410 H/1990 M.
Muhammad Bashir Al-Shaqfah, Al-Fikih Al-Maliki fi Thawbihi Al-Jadid, Dar Al-Qalam. Dimashq. Juz 1, Tab’ah 1, 1416 H/1999 M.
Muhammad bin Ahmad bin Uthman Al-Dhahabi (748 H), Siyar A’lam Al-Nubala’, Mu’assasat Al-Risalah. Beirut. Tab’ah 4. 1406 H/1986 M.
Muhammad bin Ahmad Ibn Al-Najjar Al-Futuhi Al-Hanbali (972 H) Sharh Al-Kawkab Al-Munir fi Usul Al-Fikih, t. Al-Duktur Muhammad Al-Zuhayli wa Al-Duktur Nazih Hammad, Matba’at Al-Ubaykan. Al-Riyadh. Al-Tab’ah Al-Thaniyah 1413 H/1993 M.
Muhammad bin Al-Hasan Al-Hajwi Al-Fasi, Al-Fikr Al-Sami fi Tarikh Al-Fikih Al-Islami, Matba’at Idarat Al-Ma’arif. Al-Ribat. 1340 H, wa Fas 1345 H.
Muhammad bin Ali bin Muhammad Al-Shawkani (1250 H), Nayl Al-Awtar, Matba’at Mustafa Al-Babi Al-Halabi. Al-Qahirah Tab’ah Akhirah. 1380 H/1960 M.
Muhammad bin Isa bin Surah (279 H), Jami’ Al-Tirmidhi ma’a Tuhfat Al-Ahwadhi li Al-Mubarakfuri (1353 H), Matba’at Al-Madani. Al-Qahirah. Tab’ah 2. 1383 H/1963 M.
Muhammad bin Muhammad bin Makhluf, Shajarat Al-Nur Al-Zakiyah fi Tabaqat Al-Malikiyah, Taswir an Al-Tab’ah Al-Ula. 1349 H bi Al-Matba’ah Al-Salafiyah. Nashr Dar Al-Kitab Al-Arabi. Beirut. d.t.
Muhammad bin Yazid Al-Qazwini (273 H), Sunan Ibn Majah, Matba’at Isa Al-Babi Al-Halabi. Al-Qahirah. Al-Tab’ah Al-Ula. 1372 H/1952 M.
Muhammad Fathi Al-Durayni, Al-Nazariyat Al-Fikihiyah, Nashr Jami’at Dimashq, Dimashq. 1401 H/1980 M.
Muhammad Mustafa Al-Zuhayli, Al-Qawa’id Al-Fikihiyah Bahth fi Majallat Al-Bahth Al-Ilmi wa Al-Turath Al-Islami. Kulliyat Al-Shari’ah wa Al-Dirasat Al-Islamiyah. Jami’at Umm Al-Qura. Makkah Al-Mukarramah. Al-Adad Al-Khamis. 1402 H/1982 M.
Muhammad Rawwas Qal’ah Ji, Al-Mawsu’ah Al-Fikihiyah Al-Muyassarah, Dar Al-Nafa’is, Beirut. Tab’ah 1. 1421 H/2000 M.
Muhammad Siddiq bin Ahmad Al-Burnu, Abu Al-Harith Al-Ghazzi, Mawsu’at Al-Qawa’id Al-Fikihiyah, Tab’ Maktabat Al-Tawbah. Al-Riyadh. Tab’ah 2. 1418 H/1998 M.
Muhammad Zahid Al-Kawthari, Maqalat Al-Kawthari, Tab’ Maktabat Al-Turath. Halab, d.t.
Mustafa Ahmad Al-Zarqa, Al-Madkhal Al-Fikihi Al-‘Amm, Matabi’ Alf Ba’ Al-Adib. Dimashq. 1387 H/1968 M.
Mustafa Al-Shalabi, Al-Madkhal fi Al-Ta’rif fi Al-Fikih Al-Islami, Matba’at Dar Al-Ta’lif Misr 1379 H/1959 M.
Mustafa bin Abd Allah, Mulla Jalabi Haji Khalifah, Kashf Al-Zunun an Asami Al-Kutub wa Al-Funun, Tab’at Istanbul. Tab’ah 1. Sanat 1310 H.
Muslim bin Al-Hajjaj Al-Naysaburi (261 H), Sahih Muslim, bi Sharh Al-Nawawi (676), Al-Matba’ah Al-Misriyah wa Maktabatiha, Al-Qahirah. Al-Tab’ah Al-Ula. 1349 H/1930 M.
Nur Al-Din Ali bin Abi Bakr Al-Haythami (807 H), Majma’ Al-Zawa’id wa Manba’ Al-Fawa’id, Matba’at Al-Qudsi. Al-Qahirah. 1352 H.
Sa’d Al-Din Dadash, Majallat Jami’at Al-Amir Abd Al-Qadir li Al-Ulum Al-Islamiyah, Bahth, Al-Adad Al-Sadis. Safar 1420 H Jun (Haziran) = (Yunyu) 1999 M. Qusanatinah. Al-Jazair.
Salih bin Ghanim Al-Sadlan, Al-Qawa’id Al-Fikihiyah Al-Kubra wa Ma Tafarra’a Anha, Dar Balansiyah. Al-Riyadh. Tab’ah 2. 1420 H/1999 M.
Salim Rustam Baz Al-Lubnani, Sharh Al-Majallah, Taswir Al-Tab’ah Al-Thalithah. Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah. Beirut. Lubnan. d.t.
Shams Al-Din Abu Abd Allah Muhammad bin Abi Bakr Al-ma’ruf bi Ibn Qayyim Al-Jawziyah (751 H), A’lam Al-Muwaqqi’in, Maktabat Al-Kulliyat Al-Azhariyah. Al-Qahirah. 1388 H/1968 M.
Shihab Al-Din Ahmad bin Idris Al-Sanhaaji Al-Qarafi Al-Maliki (684 H), Al-Furuq, Matba’at Ihya’ Al-Kutub Al-Arabiyah. Misr. 1345 H.
Sulayman bin Al-Ash’ath Al-Sijistani (275 H), Sunan Abi Dawud, Matba’at Mustafa Al-Babi Al-Halabi. Al-Qahirah. Al-Tab’ah Al-Ula. 1371 H/1952 M.
Taj Al-Din Abd Al-Wahhab bin Ali Al-Subki (771 H), Tabaqat Al-Shafi’iyah Al-Kubra, t. Al-Hilw wa Al-Tannahi, Tab’ Mustafa Al-Babi Al-Halabi. Al-Qahirah. 1383 H/1964 M.
Ubayd Allah bin Umar Al-Dabbusi Al-Hanafi (430 H), Ta’sis Al-Nazar, Matba’at Al-Imam, Nashr Zakariya Ali Yusuf Al-Qahirah d.t.
Ya’qub bin Abd Al-Wahhab Al-Bahusin, Al-Qawa’id Al-Fikihiyah, Tab’ Maktabat Al-Rushd wa Shirkah Al-Riyadh. Al-Riyadh. Tab’ah 1. 1418 H/1998 M.
Yahya bin Sharaf Al-Nawawi (676 H), Al-Majmu’ Sharh Al-Muhadhdhab, Tab’ Maktabat Al-Irshad. Jeddah. Al-Sa’udiyah. d.t.
Yusuf Assaf (1938 M), Mir’at Al-Majallah, Al-Matba’ah Al-Umumiyah. Misr. 1894 M.
Yusuf bin Abd Al-Hadi Al-Dimashqi Al-Hanbali, Jamal Al-Din (909 H), Al-Qawa’id Al-Kulliyah wa Al-Dawabit Al-Fikihiyah, Tahqiq Jasim bin Sulayman Fuhaid Al-Dawsari. Dar Al-Basha’ir Al-Islamiyah. Beirut. Tab’ah 1. 1415 H/1994 M.
Zain Al-Din Abu Al-Faraj Abd Al-Rahman bin Ahmad, Al-ma’ruf bi Ibn Rajab Al-Hanbali (795 H), Dhayl Tabaqat Al-Hanabilah, Matba’at Al-Sunnah Al-Muhammadiyah. Al-Qahirah. 1372 H/1952 M.
Zain Al-Din Abu Al-Faraj Abd Al-Rahman bin Ahmad, Al-ma’ruf bi Ibn Rajab Al-Hanbali (795 H), Jami’ Al-Ulum wa Al-Hikam, Matba’at Mustafa Al-Babi Al-Halabi, Al-Qahirah. Tab’ah 3. 1382 H/1962 M.
Zain Al-Din bin Ibrahim Al-Ma’ruf bi Ibn Nujaym Al-Hanafi (970 H), Al-Ashbah wa Al-Nazair, wa bi hashitatihi (Nuzhat Al-Nawazir) li Muhammad Amin bin Umar, Al-ma’ruf bi Ibn Abidin (1252 H). Dar Al-Fikr. Dimashq. Tab’ah. 1403 H/1983 M.